Kemarahan, apa yang kamu ketahui tentang kemarahan? Apakah ia
sebuah sifat? Apakah ia sebuah perilaku? Atau ia adalah sebuah karakter? Saya pikir
kemarahan adalah nafsu, yang harus dikendalikan oleh setiap insan yang sedang
mengalami kesulitan maupun keputusasaan. Sebagai manusia yang mulia yang hendak
diberikan tempat yang baik di sisiNya lebih baik mengendalikan nasfu marahnya,
seperti dalam sebuah hadist yang mengatakan “laa taghdob walakal jannah (HR.Tabrani)”
yang artinya adalah jangan marah bagimu surga. Sangat jelas perintah nabi yang
menyuruh kita agar bisa mengendalikan amarah yang meledak maupun yang
terpendam.
Kemarahan terpendam bahkan lebih membahayakan diri sendiri, karena
bisa jadi kemarahan orang tersebut akan terus menumpuk sampai mencapai titik
puncaknya. Sadar atau tidak dengan cepat orang tersebut akan stress bahkan
depresi yang akan mengakibatkan perilaku diluar kewajaran. Seperti yang sudah
dialami orang-orang disekitar saya, mereka yang sering memendam kemarahan tanpa menghapus
kemarahan tersebut dihari berikutnya cenderung memiliki dendam yang besar dan
sering melakukan hal diluar kewajaran seperti melempar pisau, berkata seronok,
dll. Sewajarnya sebagai manusia beriman kita bisa menjunjung tinggi kesabaran
(walalupun penulis pun belum sepenuhnya bisa menjunjung kesabaran).
Tanpa pengecuali
seorang ibu yang anaknya mendapatkan cobaan, kemudian suaminya yang cemburu
berlebih, atau bahkan keuangan yang tidak terkendali pengeluarannya. Begitu juga
kepada seorang mahasiswa yang tugasnya menumpuk, dimarahi dosen, maupun
keuangan yang menipis diwaktu yang sebelumnya.
Kemarahan selalu berbanding serasi dengan kesabaran. Orang yang
memiliki kesabaran yang luas cenderung memiliki managemen emosi yang baik. Kesabaran
juga selalu bersama dengan hati yang tenang. Hati yang tenang didapatkan dari
shalat yang benar dan khusuk. Mungkin hanya beberapa orang yang bisa memiliki
hati yang tenang, yang dimana orang tersebut benar-benar menundukkan dan
menyerahkan seluruh hati dan jiwa raganya hanya untuk Allah semata, Sang Rahman
Sang Rahiim yang senantiasa menyiramkan kasih serta sayangnya kepada seluruh
ciptaanNya. Mulai detik ini kita harus perbaiki segala nafsu amarah yang kita
miliki, karna kemarahan bisa mengubah air menjadi api, mengubah gula menjadi
arang, mengubah kedamaian menjadi kerusuhan. NA’UDZUBILLAHIMINDADZIK. Semoga kita
bukan termasuk orang-orang yang selalu dipenuhi dengan kemarahan dan kemarahan.
Aamiin ya Rabbal ‘alamiin. :’)
